Di antara percikan
pemikiran Wawasan Pendidikan
Imam al-Ghazali dalam Fatihatul Ulum, yakni tentang hubungan antara guru-murid.
Bagi kita, wawasan pendidikan al-Ghazali tersebut senantiasa aktual dan relevan
dengan situasi dan kondisi masa kini.
Al-Ghazali berpendapat
bahwa para guru hendaknya memiliki sifat kasih sayang terhadap murid-muridnya,
dan memperlakukan mereka dengan lembut laksana mereka memperlakukan anaknya
sendiri.
Lebih lanjut ia
berkata, “Hendaknya guru senantiasa jujur kepada setiap murid. Jangan
biarkan murid-murid bertingkah laku buruk. Dan jangan sekali-kali membicarakan
keburukan teman guru lainnya di hadapan seorang murid… Hindarkan mengajarkan
pelajaran yang berada di luar kemampuan berpikir murid.”
Ia kemukakan pula bahwa
para guru hendaknya senantiasa memberi teladan yang baik dari apa yang
diajarkan. Jika tidak demikian, katanya, maka perbuatan itu tidak sesuai dengan
apa yang diajarkan. Al-Ghazali juga menekankan tentang pentingnya niat dan
kebersihan hati para murid. “Perbaikilah niat mereka dan bersihkan hati
mereka, agar pendidikannya dapat berfungsi dengan baik.”
Sementara tentang
pujian terhadap murid dan kesalahan yang dilakukannya, al-Ghazali berujar, “Pujilah
dan doronglah murid-murid apabila perbuatan mereka patut mendapatkan pujian.
Maafkanlah mereka apabila mereka baru melakukan kesalahan satu kali, tetapi
manakala ia mengulangi kesalahannya, peringatkanlah ia secara tersendiri. Untuk
membetulkan kesalahannya, janganlah mencaci-maki mereka. Serta jauhkanlah mereka
dari ‘teman-temannya yang jahat’, lantaran ini adalah hal amat mendasar bagi
pendidikannya.”
Wawasan pendidikan
al-Ghazali dalam buku Fatihatul Ulum lainnya mencakup:
Keutamaan Ilmu, Asas-asas Pengajaran dan Bimbingan, Bukti-bukti Rasional soal
mengajar sebagai profesi yang mulia, Pembagian Ilmu, Tanggungjawab Guru dan
Murid, dan lain sebagainya.
Pada karya pendidikan
lainnya, Mizanul Amal (Kaidah-kaidah Perilaku),
al-Ghazali mengembangkan psikologi asosiasional yang menarik. Pendapat yang
dikemukakan al-Ghazali di bawah ini amat mengagumkan jika kita membayangkan
situasi jaman tatkala ia hidup waktu itu.
Al-Ghazali berpendapat
bahwa: (1). Akal terletak di pusat otak sebagaimana seorang raja tinggal di
tengah-tengah kerajaannya, (2). Daya cipta terletak di otak depan seperti
seorang kepala kantor pos yang mengumpulkan dan menyebarkan berita, (3).
Ingatan terletak di bagian belakang otak seperti seorang pelayan yang berdiri
di belakang majikannya, (4). Kemampuan berbicara adalah seperti seorang
penerjemah (tentang gagasan-gagasan), dan (5). Panca indera dapat dibandingkan
dengan mata-mata yang memeriksa sumber dan membuktikan kebenaran informasi.
Saya ambilkan contoh
nasehat al-Ghazali dalam risalah ‘Anakku‘ dimaksud mengenai pentingnya
ilmu untuk diamalkan. Kata al-Ghazali, “Yakinlah bahwa ilmu semata tidak
mungkin bisa diandalkan. Contohnya, seandainya seorang laki-laki gagah di
tengah gurun sendirian memiliki sepuluh pedang India yang sangat ampuh dan
beberapa pusaka lainnya. Laki-laki itu dikenal pemberani dan jago perang.
Kemudian seekor singa yang sangat besar menghampirinya dan siap menerkamnya.
Apa pendapatmu, apakah senjata-senjata yang hebat itu mampu mencegah laki-laki
itu dari terkaman singa jika ia tidak menggunakan dan menghantamkannya kepada
singa? Sudah pasti senjata-senjata itu tidak mampu melindunginya kecuali dengan
digerak-gerakkan. Demikian juga jika seseorang telah membaca 100.000 masalah
ilmiah dan berhasil menguasainya. Tetapi tidak mengamalkannya, maka ilmu-ilmu
itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannva. Contoh lain.
Jika seseorang sakit kuning, dan ia mengetahui bahwa kesembuhannya hanya dengan
ramuan obat tertentu yang telah dikuasainya, maka ia tidak mungkin sembuh kecuali
dengan meminum obat itu… Seandainya kamu telah belajar puluhan tahun, membaca
banyak buku dan menguasai berbagai macam ilmu, lalu kamu menyimpan kitah-kitab
sebagai bahan koleksi pribadi, maka semua itu tidak akan menolong dan
menjadikanmu mendapatkan manfaat kecuali dengan mengamalkannya.”
***
Akhirnya saya sudahi
tulisan lumayan panjang ini dengan menyimpulkan filsafat al-Ghazali tentang
pendidikan dengan memperhatikan wawasan pendidikannya dalam “master piece”
karyanya Ihya Ulumuddin.
Al-Ghazali menekankan
agar seorang anak dibiasakan untuk bersusah payah, dan jangan dibiasakan dalam
kemewahan. Sedari dini seorang anak juga musti ditanamkan sifat-sifat hormat,
bersahaja dan kesungguhan dalam dirinya. Selanjutnya ia tandaskan, “Hendaknya
seorang anak dijaga agar tidak menggemari uang dan benda-benda lainnya,
lantaran inilah langkah yang dapat menuju kepada pertengkaran.”
Pada bagian lain
al-Ghazali berujar, “Orang tua bertanggungjawab mendidik anaknya dengan
benar. Di tangan merekalah anak yang tidak berdosa dan nuraninya yang masih
bersih itu diserahkan. Hatinya laksana sebuah cermin yang siap memantulkan
bayangan apa pun yang diletakkan di depannya dan ia akan meniru apa saja yang
dilihatnya. Ia dapat menjadi warga negara yang baik apabila ia dididik dengan
baik dan ia akan membahayakan orang lain apabila ia diabaikan dan diperlakukan
dengan buruk. Orang tuanya, sanak familinya, maupun guru-gurunya, akan ikut
menanggung kebahagiaan atau menanggung penderitaan karena kejahatannya. Oleh
karena itu, menjadi tugas orang tua atau walinya untuk memperhatikan anak.
Ajarkanlah kepadanya akhlak yang baik. Didiklah ia dan jauhkanlah dirinya dari
teman-temannya yang buruk.”
`
